MAKALAH BAHASA INDONESIA TENTANG BANGSA INDONESIA
MAKALAH
BAHASA INDONESIA
BANGSA
INDONESIA
NAMA
: MUH
KHUWAILID HAKIM
NPP : 30.1197
KELAS : I 6
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT,
yang telah memberikan nikmat dan rahmat kepada kita semua, sehingga kita mampu
menyelesaikan tugas pembuatan makalah “Bangsa Indonesia” ini sesuai
dengan waktu yang telah di tentukan.
Kami juga memohonkan maaf kepada semuanya apabila
dalam makalah yang kami buat ini kurang maksimal, karena masih terdapat
banyak sekali kekurangan-kekurangan, lebih-lebih mengenai referensi. Untuk itu
kami kelompok dua sangat menunggu kritik maupun saran dari semua
pembaca agar kedepannya kami bisa membuat makalah yang lebih baik lagi.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia
B.
Proses
Perjuangan Bangsa Indonesia
C.
Kebangkitan
Nasional/ Kesedaran Bangsa Indonesia
D. Suku Bangsa Indonesia
BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bangsa adalah sekelompok orang yang memiliki
kehendak untuk bersatu yang memiliki persatuan senasib dan tinggal di wilayah
tertentu, beberapa budaya yang sama, mitos leluhur bersama.
Negara berasal dari kata state (Inggris), Staat (Belanda,
Jerman), E`tat (Prancis), Status, Statum (Latin) yang berarti meletakkan dalam
keadaan berdiri, menempatkan, atau membuat berdiri.Kata Negara yang dipakai di
Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yanitu Negara atau nagari yang artinya
wilayah, kota, atau penguasa.
B.
Rumusan
Masalah
Makalah ini membahas tentang :
1. Bagaimana
Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia?
2.
Bagaimana Proses Perjuangan Bangsa Indonesia?
3. Bagaimana
proses Kebangkitan Nasional / Kesedaran Bangsa Indonesia?
4. Berapa Suku Bangsa indonesia?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia
Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara
di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua
Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia
adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh
karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara).
Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.
Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.
Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra.
Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, “Bhinneka tunggal ika” (“Berbeda-beda tetapi tetap satu”), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
B.
Proses Perjuangan Bangsa Indonesia
Bangsa Indonesia telah mendirikan
kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan, dan kemudian sekitar seabad seterusnya
didirikan pula kerajaan- Majapahit di Jawa Timur. baik Sriwijaya, maupun
Majapahit pada zamannya itu telah merupakan negara-negara yang
berdaulat,bersatu serta mempunyai wilayah yang meliputi seluruh nusantara ini.
MASA KERAJAAN SRIWIJAYA.
Dalam sejarah Indonesia terdapat dua
kerajaan kuno yang besar dan megah yaitu Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Para
ahli masih berbeda pendapat letak yang pasti kerajaan Sriwijaya. Tetapi
peristiwa Sidhayarta yang dilakukan oleh Dapuntah yang menguatkan kesimpulan
bahwa pusat kerajaan Sriwijaya terletak di Jambi. Pendapat ini diperkuat pula
dengan ditemukannya prasasti Muara Takus. Namun dari keterangan prasasti Kota
Kapu di Talang To, yang menyebut-nyebut kata “Sriwijaya”, dapat ditarik kesimpulan
lain, yaitu pusat ibu kota sriwijaya adalah di Palembang. Prasasti lain yang
menunjukkan adanya kekuasaan Sriwijaya adalah Bukit Siguntang dan Karang Brahi.
Dalam pertumbuhannya, Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan besar.
Hal ini ditunjang oleh beberapa
faktor:
1.
Letak Sriwijaya yang strategis iaitu berda dijalur lalu lintas hubungan dagang
India dengan Cina serta pelabuhannya yang tenang karena terlindung oleh Pulau
Bangka dari terjangan ombak besar .
2.
Runtuhnya kerajan Fuhan sebagai kerajaan maritime menguntungkan kerajaan
Sriwijaya karena ia bisa berkembang dalam perdangan di Asia Tenggara.
3.
Majunya pelayaran dan perdagangan India dan Cina memberi Sriwijaya kesempatan
untuk berkembang dalam perdangan di Asia Tenggara.
4.
Memiliki armada laut yang kuat untuk mengamankan lalulintas pelayaran,
perdagangan serta daerah kekuasaaan
Disisi lain perkembangan agama
Budha, Sriwijaya berperan penting sebagai pusat perkembangan agama ini di Asia
Tenggara dan sebagai pusat perkembangan bahasa Sansekerta, sehingga para biksu
dari negeri Cina harus belajar Sansekerta di Sriwijaya terlebih dahulu sebelum
belajar agama Budha di India. Diantara Dharmapala,ada seorang murid bernama
Sakiyakirti yang kemudian menjadi guru besar di Sriwijaya.Berdasarkan prasasti
Nalanda, Balaputra Dewa adalah keturunan Raja Jawa yang mengadakan hubungan
baik dengan kerajaan Benggala yang diperintah oleh Dewapala Dewa yang pernah
menghadiahkan sebidang tanah untuk mendirikan asrama bagi pelajar dari Sriwijaya.
Prasasti itu juga menjelaskan bahwa Balaputra Dewa keturunan dari Raja
Samaratungga dan Putri Tara dari Sriwijaya kemudian menjadi raja besar. Namun
hubungan Sriwijaya dengan India retak (1023-1024m) karena adanya pertikaian
mengenai penguasaan jalur lalulintas perdangan di Selat Malaka. Setelah
BalaPutra Dewa meninggal, Sriwijaya mengalami kemunduran.
Faktor faktor penyebabnya adalah:
1.
Pengganti Balaputra Dewa tidak sekuat Balaputra Dewa dalam hal pemerintahan dan
kurang bijaksana dalam menghadapi para pembantunya.
2.
Adanya serangan Pamalayu dari Singosari dibawah pemerintahan KartaNegara.
3.
Daerah-daerah yang berada dibawah pengaruh Sriwijaya berusaha melepaskan diri
seperti Thai, Ligor serta daerah lain di semenanjung Malaka.
4.
Adanya serangan Majapahit dalam usaha persatuan Nusantara dibawah panji
Majapahit.
Masa kerjaan majapahit Sriwijaya dan
Majapahit merupakan dua kerajaan yang memiliki karisma tersendiri menduduki
tempat yang cukup mengesankan serta disegani oleh banyak Negara asing. Dalam
pertumbuhannya, Majapahit banyak menerima unsur politik, kebudayaan, social,
ekonomi dari Singosari sebagai kerajaan yang mendahuluinya. Pendirinya adalah
Raden Wijaya yang berhasil menduduki tahta berkat bantuan dari Atya Wiraraja,
bupati Madura yang menghadiahkan daerah Tarik kepada Raden Wijaya sebagai
daerah kekuasaan. Pada 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri
Kertajarasa Jaya Wardhana. Yang memrintah dari tahun 1293 sampai wafatnya pada
tahun 1309 dan dimakamkan sebagai JenaBudha Wisnu dan Siwadi Chandi camping dan
candi Budha di Antaphura, kota Majapahit. Sepeninggalannya kertajasa, putranya
Kalagemit yang bergelar Srijaya Negara mengisi tahta kerajaan. Namun
pemerintahannya lemah dan selalu dironrong oleh pemberontakan, misalnya
pemberontakan Ranggalawe, LembuSora, Juru Demong, Gajah Biru, Nambi, Lasem, dan
Semi. Aying paling berbahaya adalah pemberontakan Kuti dengan peristiwa
Badandernya yang hampir meruntuhkan Majapahit sehingga JayaNegara mengungsi
dengan diikuti oleh pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh GajahMada.
Selanjutnya JayaNegara meninggal
tahun 1250 Saka (1328m), karena dibunuh oleh Tanca, seorang tabib kerajaan yang
kemudian dibunuh oleh Gajah Mada. Karena Jaya Negara tidak mempunyai keturunan,
maka tahta kerajaan digantikan oleh adik perempuannya, Tribuana Tunggadewi.
Sementara itu Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih. Pada tahun 1350m Tribuana
meninggal dan Hayam Wuruk memimpin pemerintahan sehingga dia berjaya mencapai
kemuncak kejayaan. Menurut Kakawin Nagara Kertagama yang ditulis oleh Mpu
Prapanka, daerah yang dikuasai Hayam Wuruk pada masa pemerintahannya sangat
luas, yaitu hampir meliputi seluruh wilayah Indonesia sekarang.
Majapahit melakukan Mitreka Setata
(persahabatan yang kekal sederajat) dengan Negara-negara di Asia tenggara,
sementara itu Gajah Mada melakukan peluasan kekuasaaan ke luar Jawa. Untuk
mencapai cita-citanya, ia menyatakan Sumpah Palapa dan dengan dibantu oleh Mpu
Nala dan Adityawarman, ia menaklukkan satu persatu daerah di luar Jawa, pada
masa ini kemakmuran rakyat Majapahit Nampak terangkat dan kegiatan ekonomi
mahupun budaya sangat diperhatikan.
Peristiwa Bubat yang terjadi pada
tahun 1279 Saka (1357m) ditandai Hayam Wuruk bermaksud menjadikan Putri Sunda
sebgai permaisurinya. Saat Putri Sunda dan ayahnya Sri Baduga Maharadja beserta
para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat. Dia
tidak mahu pernikahan berlaku begitu saja, dia menghendaki Putri Sunda
dipersembahkan kepada Majapahit. Al hasil, terjadi perselisihan paham dan
akhirnya terjadi perang Bubat. Banyak korban di kdua belah pihak gugur
sedangkan putrinya bunuh diri.Setelah Gajah Mada meninggal pada tahun 1364m,
Raja Hayam Wuruk megundang Dewan Sapta Prabu untuk merundingkan masalah
pengganti Gajah Mada. Keputusannya adalah Mahapatih Hamengkubumi Gajah Mada
tidak bisa diganti, dan untuk mengisi kekosongan pemerintahan Mpu Tandi
diangkat sebagai Widharmantri, Mpu Nala diangkat sebagai Patih Amenca Negara,
dan Patih Dhani diangkat menjadi Yuwamantri. Menurut cerita Pararaton, setelah
tiga tahun tanpa Patih Hamengkubumi, Gajah Engon diangkat untuk mengisi posisi
tersebut.Setelah raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389m, terjadilah
perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dengan Bri
WiraBhumi (Putri Hayam Wuruk dari salah seorang selirnya) yang di sebut perang
Paregreg.
Wikrawhardhana meninggal tahun
1429m, dan berturut turut digantikan oleh Kertawijaya, Raja Wardhana,
Purwawisesa , Brawvijaya V yang tidak pernah luput dari perebutan kekuasaan.
Majapahit runtuh karena perang saudara dan proses kehancuran ini juga
dipercepat oleh perkembangan agama Islam di Demak.
C.
Kebangkitan Nasional / Kesedaran Bangsa Indonesia
Pada permulaan XX bangsa Indonesia
mengubah caranya didalam melawan kolonialis Belanda, Bentuk perlawanan itu
ialah dengan menyadarkan bangsa Indonesia akan pentingnya bernegara. Maka
lahirklah bermacam macam organisasi politik disamping bergerak dalam bidang
pendidikan dan sosial yang dipelopori oleh Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908.
Kita mengenal nama nama pahlawan perintis pergerakan nasional diantara lain :
H.O.S Tjokroaminoto ( S.IO. 1912), Douwes Dekker ( Indische Partij 1912)
Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajjar Dewantoro Tjiptomangunkusumo dan nama
nama yang lain. Sumpah Pemuda/ Persatuan Bangsa Indonesia (28 Oktober
1928)
Pada tanggal 28 Oktober 1928
terjadilah penonjolan peritiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia didalam
mencapai cita-citanya. Pada saat itu pemuda pemuda Indonesia yang dipelopori
oleh Muh. Yamen, Kuntjoro Purbopranoto, Wongsonegoro dan lain lainnya
mengumandangkan Sumpah Pemuda Indonesia yang berisi pengakuan akan adanya
bangsa , tanah-air fan bahasa yang satu , yakni Indinesia. Dengan sumpah pemuda
in makin tegaslah apa yang diinginkan oleh bangsa Indonesia iaitu kemerdekaan
tanah-air dan bangsa Indonesia. Untuk mencapai kemerdekaan perlu adanya rasa
persatuan sebagai bangsa yang merupakan syarat mutlak.
D. Suku Bangsa Indonesia
Ada lebih dari
300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia,[1] atau
tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.[2]
Suku Jawa adalah
kelompok suku terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 41% dari total
populasi. Orang Jawa kebanyakan berkumpul di pulau Jawa,
akan tetapi jutaan jiwa telah bertransmigrasi dan tersebar ke berbagai pulau di
Nusantara [3] bahkan
bermigrasi ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Suriname. Suku Sunda, Suku Batak,
dan Suku
Madura adalah kelompok terbesar berikutnya di negara ini.[4]
Banyak suku-suku
terpencil, terutama di Kalimantan dan Papua, memiliki
populasi kecil yang hanya beranggotakan ratusan orang. Sebagian besar bahasa
daerah masuk dalam golongan rumpun bahasa Austronesia, meskipun demikian sejumlah
besar suku di Papua tergolong dalam rumpun bahasa Papua atau Melanesia.
Pembagian kelompok suku
di Indonesia tidak mutlak dan tidak jelas akibat perpindahan penduduk,
percampuran budaya, dan saling mempengaruhi; sebagai contoh sebagian pihak
berpendapat orang Cirebon adalah suku tersendiri dengan dialek yang khusus
pula, sedangkan sementara pihak lainnya berpendapat bahwa mereka hanyalah
subetnik dari suku Jawa secara keseluruhan. Demikian pula suku Baduy dan suku
Banten yang sementara pihak menganggap mereka sebagai bagian dari
keseluruhan suku Sunda. Contoh lain percampuran suku bangsa
adalah suku Betawi yang merupakan suku bangsa hasil
percampuran berbagai suku bangsa pendatang baik dari Nusantara maupun Tionghoa dan
Arab yang datang dan tinggal di Batavia pada
era kolonial.
Proporsi populasi
jumlah suku bangsa di Indonesia menurut sensus 2010 sebagai berikut: [5]
|
Suku Bangsa
|
Populasi (juta)
|
Persentasi
|
Kawasan utama
|
|
Suku Jawa
|
95,2
|
40,2
|
Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Lampung
|
|
Suku Sunda
|
36,7
|
15,5
|
Jawa Barat
|
|
Suku Batak
|
8,5
|
3,58
|
Sumatra Utara
|
|
Suku Madura
|
7,2
|
3,03
|
Pulau Madura
|
|
Suku Betawi
|
6,8
|
2,88
|
Jakarta
|
|
Minangkabau
|
6,5
|
2,73
|
Sumatra Barat, Riau
|
|
Suku Bugis
|
6,3
|
2,69
|
Sulawesi Selatan
|
|
Suku Melayu
|
5,3
|
2,27
|
Sumatra dan Kalimantan; terutama di Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Sumatra Timur, Riau, Kepulauan Riau, Bangka-Belitung, dan Kalimantan Barat
|
|
Suku Arab[6]
|
5,0
|
2,10
|
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sumatra
|
|
Suku Banten
|
4,6
|
1,97
|
Banten
|
|
Suku Banjar
|
4,1
|
1,74
|
Kalimantan
Selatan
|
|
Suku Bali
|
3,9
|
1,67
|
Pulau Bali
|
|
Suku Sasak
|
3,1
|
1,34
|
Pulau Lombok, Pulau Sumbawa
|
|
Suku Dayak
|
3,0
|
1,27
|
Pulau Kalimantan
|
|
Suku Tionghoa
|
2,8
|
1,20
|
Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi
|
|
Suku Makassar
|
2,7
|
1,13
|
Sulawesi Selatan
|
|
Suku Cirebon
|
1,9
|
0,79
|
Jawa Barat
|
Kelompok Kecil
Berbagai
kawasan di Indonesia memiliki suku asli atau suku pribumi yang menghuni tanah
leluhurnya sejak dahulu kala. Akan tetapi karena arus perpindahan penduduk yang
didorong budaya merantau, atau program transmigrasi yang digalakkan pemerintah,
banyak tempat di Indonesia dihuni oleh suku bangsa pendatang yang tinggal di
luar kawasan tradisional sukunya.
Beberapa Suku Bangsa menurut Pulau
·
Jawa: Suku Jawa (termasuk Banyumasan,, Suku Bawean, Suku Tengger, Suku Sunda [termasuk Suku Baduy], Suku Banten, Suku Cirebon, Suku Betawi, Suku
Arab, Suku
Tionghoa,
dan Suku
India
·
Madura: Suku Madura
·
Sumatra: Suku Melayu, Suku Batak (termasuk Toba, Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Simalungun), Suku Minangkabau, Suku Aceh, Suku Lampung, Suku Komering, dan Suku Kubu
·
Kalimantan: Suku Dayak yang terdiri 268 suku
bangsa, Suku Banjar, Suku Kutai, suku Berau, Suku Bajau
·
Sulawesi: Suku Makassar, Suku Bugis, Suku Mandar, Suku Tolaki, Suku Minahasa yang terdiri 8 suku
bangsa, Suku Gorontalo, Suku Toraja
·
Kepulauan
Sunda Kecil: Suku Bali, Suku Sasak, Suku Flores, Suku Sumba, Suku Sumbawa, Suku Timor
·
Maluku: Suku Ambon, Suku Nuaulu, Suku Manusela, Suku Wemale, Suku Tanimbar
·
Papua - Suku Papua terdiri 466 suku bangsa di
antaranya: Suku Dani, Suku Bauzi, Suku Asmat
Kelompok suku bangsa pada masa Hindia
Belanda
Sejumlah
kecil orang India, Arab, dan Tionghoa telah datang dan menghuni beberapa tempat
di Nusantara sejak dahulu kala pada zaman kerajaan kuno. Akan tetapi
gelombang imigrasi semakin pesat pada masa kolonial. Terbentuklah kelompok suku
bangsa pendatang yang terutama tinggal di perkotaan dan terbentuk pada masa
kolonial Hindia Belanda, yaitu digolongkan dalam kelompok Timur Asing; seperti
keturunan Tionghoa, Arab, dan India; serta golongan Orang Indo atau
Eurasia yaitu percampuran Indonesia dan Eropa. Warga keturunan Indo kolonial
semakin berkurang di Indonesia akibat Perang Dunia II dan Revolusi
Kemerdekaan Indonesia.
Kebanyakan beremigrasi atau repatriasi ke luar negeri seperti ke Belanda atau
negara lain.
Suku Bangsa pendatang
·
Tionghoa – Etnik asing minoritas paling signifikan di Indonesia
adalah etnik ini. Orang Cina mulai menghuni Indonesia
sejak abad ke-15 dengan gelombang signifikan
pada abad ke-18 dan ke-19. Sebagian besar orang Tionghoa
terkonsentrasi dalam suatu wilayah yang bernama 'Pecinan' (Chinatown) di beberapa
provinsi di Indonesia seperti Jakarta, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat.
·
Arab – Secara historis, kedatangan bangsa Arab di Indonesia untuk
menyebarkan agama Islam. Banyak yang berasimilasi dengan etnis lokal seperti
Betawi, Melayu, Aceh, Minangkabau, Jawa, dan Sunda; namun, beberapa kota di
Indonesia memiliki populasi Arab yang signifikan yang melestarikan budaya dan
identitas mereka, disebut dengan 'Kampung Arab'. Daerah ini tersebar di seluruh
kota-kota di Indonesia, jumlah yang signifikan dapat ditemukan di Medan, Banda Aceh, Padang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Gresik, Banyuwangi, dan banyak kota-kota pesisir
lainnya di Indonesia.
·
India – Orang India juga sudah menetap di
Indonesia (utamanya Tamil dan Punjabi); namun, tidak sebesar orang
Tionghoa dan Arab. Terkonsentrasi di pusat-pusat kota
dengan jumlah yang signifikan, seperti Pasar Baru di Jakarta dan Kampung Keling (sekarang Kampung
Madras)
di Medan. Daerah signifikan India ini dinamakan 'Little
India' .
·
Indo – Dari leluhur campuran antara etnik di Indonesia
dengan keturunan Eropa (utamanya Belanda), mereka muncul selama
periode Hindia-Belanda. Selama masa kolonial, jumlah mereka lebih besar, tetapi
sejak kemerdekaan
Indonesia,
sebagian besar dari mereka memilih pergi ke Belanda. Orang Indo berkurang jumlahnya sebagai
kelompok etnis sejak emigrasi besar dari Indonesia
setelah Perang Dunia II.
·
Pakistani – Etnis ini dikenal juga dengan sebutan Khoja, Koja,
Kujo, dan Tambol. Orang Koja umumnya berasal dari daerah Cutch, Kathiawar, dan Gujarat, India yang beragama Islam, tetapi mereka lebih memilih Pakistan daripada India karena faktor agama. Mereka berasal dari kasta Ksatria. Pada mulanya, bangsa Pakistan pergi ke Indonesia untuk keperluan berdagang dan
menyebarkan agama Islam, tetapi lama-kelamaan justru betah dan memilih tinggal dan
berkeluarga di Indonesia. Di Indonesia daerah signifikan etnis
Pakistani dinamakan 'Pekojan'.
·
Jepang – Orang Jepang telah bermigrasi ke Indonesia
sejak jaman penjajahan Hindia-Belanda; namun, setelah kekalahan mereka
dalam Perang Dunia II, jumlah mereka menurun,
meninggalkan sejumlah kecil mantan tentara Jepang yang masih tinggal di
Indonesia dan menjadi warga
negara Indonesia. Perkembangan penduduk Jepang baru-baru ini di Indonesia
didorong oleh peningkatan bisnis dan investasi Jepang di Indonesia sejak
tahun 1970-an dan sebagian besar adalah ekspatriat yang masih mempertahankan
kewarganegaraan Jepang mereka. Sejumlah besar ekspatriat Jepang tinggal di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bali.
·
Korea – Keberadaan warga Korea di Indonesia sebenarnya telah
berlangsung cukup lama. Ada salah satu tokoh utama gerakan kemerdekaan
Indonesia,
ialah Komarudin (nama Korea: Yang
Chil-seong; Korea: 양
칠성; Hanja: 楊 七 性) yang beretnis Korea. Tetapi, mereka adalah kelompok
etnik terbaru di Indonesia. Sebagian besar didorong oleh peningkatan bisnis dan
investasi Korea di Indonesia dan sebagian besar adalah ekspatriat yang masih
mempertahankan kewarganegaraan Korea mereka.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam sejarah Indonesia terdapat dua
kerajaan kuno yang besar dan megah yaitu Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Para
ahli masih berbeda pendapat letak yang pasti kerajaan Sriwijaya
Sejarah perjuangan dan berdirinya
bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya berjalan sejak sekian abad yang
lalu,dengan pelbagai cara dan bertahap. dengan itu sejarah perjuangan bangsa
Indonesia mempunyai hubungannya dengan sejarah lahirnya pancasila. Karena
sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak berabad-abad yang lalu itu panjang
sekali, maka perlulah ditetapkan tonggak-tonggak sejarah tersebut, yakni
peristiwa- peristiwa yang menonjol, terutama dalam hubungannya dengan
pancasila.
Dalam sejarah Indonesia terdapat dua
kerajaan kuno yang besar dan megah yaitu Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Para
ahli masih berbeda pendapat letak yang pasti kerajaan Sriwijaya.
Penjajahan barat yang memusnahkan
kemakmuran bangsa Indonesia itu tidak dibiarkan begitu saja oleh segenap bangsa
Indonesia. Sejak semula imprealisme itu menjejakkan kakinya di Indonesia.
Sejarah pembuatan Pancasila ini
berawal dari pemberian janji kemerdekaan di kemudian hari kepada bangsa
Indonesia oleh Perdana Menteri Jepang saat itu, Kuniaki Koiso pada tanggal 7
September 1944. pemerintah Jepang membentuk BPUPKI.

Comments
Post a Comment